Ilustrasi.

Dikala pekerja bingung harus memilih bertahan di tempat kerja dalam waktu yang lama. Namun, ia melakukannya bukan karena merasa nyaman, tapi karena takut menjadi pengangguran. Karena saat ini pengangguran telah menjadi momok yang menakutkan. Bukan cuma sekadar status, tapi juga bisa menjadi hinaan.

Berdasar ulasan dari laman tirto.id, bahwa meskipun pekerja tak puas dengan pekerjaannya, mayoritas para pekerja lebih memilih bertahan. Sebanyak 57 persen perempuan dan 59 persen pria mengaku merasa tak puas, namun 69% dari mereka tak punya rencana untuk pindah tempat kerja. Salah satu alasannya adalah fleksibilitas dalam bekerja. Selain itu, tanggungan keluarga juga menjadi salah satu alasan lain (20 persen).

Faktor terbesar (36 persen)  yang membuat seseorang merasa tak nyaman dengan tempat kerja adalah mereka merasa tak dibayar sebesar beban kerja yang ditanggungkan kepadanya. Selain itu, sebanyak 23 persen responden merasa kalau jam kerja mereka kelewat panjang dengan beban kerja yang terlalu berat.

Nyatanya, menjadi pengangguran bukanlah sesuatu yang menakutkan buat masyarakat Amerika Serikat. Pada November 2015, berdasarkan data Biro Statistik Kepegawaian Amerika Serikat (BLS), tercatat 2,8 juta pegawai memutuskan keluar. Setahun kemudian, angka ini mencapai titik tertinggi dengan 3,064 juta pegawai yang keluar atau setara dengan 2,1 persen dari total pekerja di Negeri Paman Sam. Angka ini meningkat cukup drastis dari data 2013 yang hanya mencatat 1,63 persen saja pekerja yang keluar setiap bulannya.

Menurut Cam Marston, ada pengertian berbeda soal loyalitas bagi generasi milenial. Mereka tidak loyal kepada perusahaan, tapi loyal pada bos. Kalau sudah menaruh rasa hormat pada si bos, maka loyalitasnya tak perlu lagi dipertanyakan. Hal ini sejatinya menjawab salah satu alasan mengapa generasi milenial keluar dari pekerjaan: tak puas pada si bos.

Makin Besar Gaji Makin Tak Takut Dipecat

Di Amerika Serikat, berdasarkan survey The Harris Poll pada 2013, semakin tinggi gaji yang ia terima, semakin seorang pegawai merasa tak takut kalau sewaktu-waktu akan dipecat. Sebanyak 92 persen pegawai dengan gaji di atas 75 ribu dollar setahun tak merasa khawatir kalau sewaktu-waktu ia kehilangan pekerjaannya. Sementara itu, sebanyak 23 persen dari mereka yang digaji di bawah 35 ribu dollar setahun merasa khawatir akan masa depan pekerjaannya.

Survei tersebut menunjukkan pula betapa percaya dirinya pekerja di Amerika Serikat. Sebanyak 61 persen merasa kalaupun mereka mencari pekerjaan baru, mereka akan segera mendapatkannya. Hal ini bisa saja dilakukan, apalagi mayoritas dari mereka merasa tak akan mendapatkan peningkatan seperti dalam hal uang pensiun dan manfaat kesehatan. Malah, 50 persen di antaranya merasa kalau tugas mereka mungkin bertambah, tapi gaji akan tetap.

Data dari BLS bisa jadi menjawab itu semua. Kepercayaan diri pegawai di Amerika Serikat sejatinya terjadi karena meningkatnya lapangan pekerjaan. Sejak 2000, lowongan pekerjaan rata-rata naik hingga 17 persen. Uniknya, kenaikan ini juga sejalan dengan naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

Lowongan pekerjaan naik lima tahun beruntun pada 2014. Setiap bulannya, terdapat 4,6 juta lowongan pekerjaan yang siap diisi orang-orang baru. Menurut BLS lowongan pekerjaan sejalan dengan permintaan. Ia cenderung meningkat selama ekspansi ekonomi dan menurun saat ekonomi menurun.

“Lebih banyak lowongan pekerjaan mengindikasikan bahwa perusahaan membutuhkan tambahan pekerja, sebuah tanda kepercayaan diri dalam ekonomi. Lowongan pekerjaan dan pekerjaan saling terhubung; cenderung naik dan turun bersama-sama,” tulis BLS.

Jadi kembali kepada keputusan diri Anda. Mau bertahan atau keluar dan bekerja di tempat lain. Dan perlu di ingat bahwa setiap keputusan Anda itu memiliki resiko. Jadi lebih baik pikirkan matang-matang dahulu sebelum memilih.

Sumber : tirto.id