Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menggunakan teknologi Blockchain Zoo dalam membantu digitalisasi keuangan.

Nantinya bank-bank daerah tidak lagi diperbolehkan menyimpan uang secara tunai melainkan harus nontunai.

“Jika digunakan untuk pengelolaan data baik di BPD dan BPR akan menjadi lebih baik,” ujar Analis Eksekutif Senior DKB IV OJK Robert Akyuwen, di Jakarta,1 Februari 2018.

Sedangkan untuk digitalisasi pencatatan, menurutnya, sangat berguna untuk meminimalisir penggunaan kertas, sehingga menyebabkan biaya operasional bank akan menurun.

“Bisa juga digunakan untuk menilai kelayakan kredit suatu pelaku usaha mikro, nantinya cukup dengan menggunakan gadget kita datang tanda tangan di gadget memangkas waktu menjadi lebih cepat,” tambahnya.

Dia menambahkan teknologi tersebut sangat dibutuhkan oleh bank-bank perkreditan rakyat agar bisnis keuangan menjadi lebih efesien dengan teknologi yang relatif murah.

Blockchain zoo dibaratkan seperti kebun binatang teknologi, permainan yang ada di gadget dapat dibuat dengan teknologi tersebut.

Selain itu blokchain juga memungkinan terjadi pertukaran data tanpa mengunakan pihak ketiga pada proses transaksinya dan mengusung konsep tidak berpangku pada server utama.

“Jika ada 10 bank yang menggunakan teknologi tersebut, semuanya menjadi server,” ungkap dia.

Robert menuturkan saat ini ada total 4.000 unit BPR dan setiap dua minggu sekali OJK melakukan Cabut Izin Usaha (CIU) karena kondisi keuangan yang memburuk. Dengan menggunakan teknologi seperti blokchain diharapkan dapat membantu meningkatkan bisnis bank daerah.