Ilustrasi.

Karena tingginya harga rumah, banyak generasi muda alias kaum milenial di Jakarta sulit untuk memiliki rumah. Hal ini  terjadi mayoritas kaum milenial hanya memiliki pendapatan di bawah Rp 7 juta per bulan, sementara harga rumah di atas Rp 480 juta.

Karena kenaikan harga rumah masih lebih tinggi dibanding persentase kenaikan pendapatan atau gaji sekarang ini, Maka hal ini membuat banyak kaum muda tinggal dirumah sewa.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin, mengatakan memang cukup sulit untuk kaum milenial sekarang ini bisa memiliki tempat tinggal atau rumah tapak di tengah kota.

Menurutnya, “Harga rumah kenaikan berdasarkan pengalaman 10%, sedangkan gaji hanya 7%. Jadi kalah kan. Apalagi harga rumah tapak di tengah kota sudah sangat mahal,” kata Syarif kepada detikFinance, Jakarta, Minggu (26/3/2017).

Akan tetapi ada alternatif pilihan bagi kaum milenial untuk mendapatkan tempat tinggal di tengah kota seperti Jakarta, ialah dengan menggunakan rumah susun sederhana milik (rusunami) atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa).

Jadi mereka (kaum milenial) bisasambil menabung dan tinggal di rumah sewa. Istilahnya rusanami dan rusunawa yang dibuat itu jadi tempat parkir mereka sementara, ujar Syarif.

Sebab ia menegaskan, dengan pendapatan di bawah Rp 7 juta untuk kaum milenial kebanyak, memang dinilai sangat sulit untuk bisa mendapatkan rumah tapak di Jakarta. Oleh sebab itu, lanjut Syarif, rusunami atau rusunawa bisa menjadi tempat parkir mereka sementara, sambil kaum milenial menabung dan mempersiapkan diri.

“Iya (tidak bisa) kalau dengan gaji seprti itu. Yang penting mereka proseskan diri untuk memiliki rumah. Kalau belum mampu ya sewa saja dulu,” tutur Syarif.

Sumber : finance.detik.com